Selasa, 26 Juni 2012

Isra' Mi'raj dalam Perspektif Sains dan Agama


“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Isra’ (17): 1).

Pilihan judul Isra’ Mi’raj dalam Perspektif Agama dan Sains ini bukan dimaksudkan untuk melihat peristiwa Isra’ Mi’raj dari perspektif yang saling kontradiktif antara sains versus agama sebagaimana terjadi dalam tinjauan-tinjauan sains sekuler, sebaliknya judul ini diambil untuk berusaha memberi pandangan yang integratif  tentang peristiwa Isra’ Mi’raj dari sisi sains maupun agama, karena sains dan agama di dalam Islam bukanlah dua entitas yang berdiri sendiri-sendiri. Islam memberikan tinjauan yang meliputi segala aspek kehidupan dan semua segi pemikiran. Prinsip Islam adalah tidak ada persoalan yang berada di luar tata ruang agama, termasuk prinsip di dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Sains memerlukan bimbingan agama agar menghasilkan produk pengetahuan yang menyelamatkan masa depan umat manusia, demikian juga agama perlu penjelasan sains agar tidak terjatuh ke dalam mitos dan takhayul para dukun jahat.

Isra’ mi’raj adalah satu-satunya perjalanan dahsyat menakjubkan yang menjembatani perjumpaan manusia dengan Allah, yaitu perjumpaan Rasulullah Muhammad dengan Allah SWT. Selain Rasulullah hanya iblis makhluk yang pernah bertatapan wajah dan bernegosiasi dengan Allah. Nabi Musa terkejut pingsan di bukit Tursina (Sinai) sebelum sempat melihat wajah Allah. Al-Hallaj terpenggal. Syekh Siti Jenar dieksekusi. Namun setelah dalam kenikmatan tak tertandingi dapat berjumpa dengan Allah justru Rasulullah tidak berdiam di sisi Allah, tapi Rasulullah kembali lagi ke bumi untuk menjalankan tugas-tugas kekhalifahan yang nantinya menjadi ukuran kualitatif tingkat keberhasilan manusia sebagai manusia.

Secara kualitatif manusia bisa dibedakan menjadi tiga tingkat: pertama Insan (Annas), suatu kriteria paling mudah dicapai, tanpa perjuangan. Tanpa mengaitkan diri dengan komitmen apapun manusia sudah termasuk manusia dalam artian insan. Kedua ‘abdullah, kriteria bila mana manusia itu berusaha taat, patuh, dan tunduk pada Allah supaya tidak mendapat kemurkaan-Nya. Kriteria kedua ini sedikit lebih tinggi dari kriteria pertama namun belum mencapai tingkat partisipasi aktif dalam mengubah, memperbaiki, dan mengkreatifi keadaan di muka bumi. Ketiga khalifatullah, adalah kriteria manusia yang selaras dengan tujuan diciptakannya manusia. Dia tidak hanya fakum dalam kepatuhan yang tidak produktif. Khalifatullah adalah jenis manusia yang memperbaiki dan membangun. Membersihkan yang kotor, mengubah sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat, mencerdaskan yang dibodohi, membebaskan yang teraniaya adalah contoh partisipasi aktif manusia khalifatullah.

Manusia-manusia khalifatullah inilah yang di dalam Islam diusahakan kelahirannya di tengah-tengah problem umat manusia yang membutuhkan solusi. Mengambil istilah dari surat Ali ‘Imran (3): 110 manusia-manusia tersebut adalah khaira ummah. “Kuntum khaira ummah ukhrijat linnasi ta’muruna bil ma’rufi wa tanhauna ‘anil munkar wa tu’minuna billahi.” Manusia-manusia pilihan adalah mereka yang terlibat aktif melakukan perbaikan (liberasi), mencegah terjadinya kemungkaran dengan usaha-usaha pembebasan, pembelaan pada yang lemah (liberalisasi), dan beriman kepada Allah (transendensi). Sebagian besar agama hanya concern pada aspek transendensi. Islam menjadikan ketiga-tiganya sebagai aspek yang saling bersinergi. Seorang yang beriman bukanlah seorang yang bersembunyi dalam aktivitas ritual di dalam goa, tapi iman itu harus teraktualisasi dalam gerakan liberasi dan liberalisasi.

Di samping sebagai perjalanan luar biasa yang menjembatani perjumpaan manusia Muhammad Rasulullah dengan Allah, peristiwa Isra’ Mi’raj dapat dipahami dengan menafsir-nafsirkan surat Isra’ tersebut dengan ayat-ayat kauniyyah yang berupa alam beserta sifat-sifatnya.

Subhanalladzii (Maha Suci Allah)

Cerita tentang Isra’ Mi’raj dimulai dengan kata Subhanalladzii. Kata pembuka ini memiliki arti yang mendalam. Kata subhanallah diucapkan ketika seseorang berhadapan dengan sesuatu yang luar biasa. Dengan awal kalimat tersebut tersirat bahwa Allah akan bercerita tentang sesuatu yang luar biasa pada kalimat-kalimat berikutnya.

Asraa (memperjalankan)

Perjalanan Isra’ Mi’raj terjadi karena Allah yang memperjalankan. Perjalanan tersebut adalah perjalanan tercepat yang pernah ditempuh manusia, karena kecepatannya diceritakan bahwa Rasulullah mengendarai Buraq menuju Masjidil Aqsha berlanjut ke Sidratul Muntaha. Buraq berasal dari kata barqun yang berarti kilat cahaya. Dalam perjalanan tersebut memang Rasulullah dibawa oleh malaikat Jibril yang asal kejadian malaikat itu sendiri adalah dari cahaya. Karena asal kejadiannya dari cahaya maka malaikat bergerak dengan kecepatan cahaya, yaitu 300.000 km perdetik atau delapan kali keliling bumi per detik.

‘Abdihi (hambaNya)

Para ahli tafsir sepakat bahwa dengan menggunakan kata ‘abdi memberikan isyarat bahwa perjalanan itu dilakukan Rasulullah sebagai manusia seutuhnya, jiwa dan badannya. Di sinilah mulai muncul problem dalam menjelaskan peristiwa Isra’ Mi’raj. Malaikat adalah makhluk cahaya, yang badannya tersusun dari photon-photon, yang sangat ringan. Karena itu tidak mengalami kendala untuk bergerak dengan kecepatan cahaya yang demikian tinngi. Akan tetapi Rasulullah adalah manusia. Badannya tersusun dari atom-atom kimiawi, yang memiliki bobot, terdiri atas gabungan dari organ-organ, dan organ-organ itu terdiri atas sel-sel yang tersusun dari partikel yang lebih kecil yaitu atom, dan ternyata atom juga tersusun dari partikel sub atomik seperti proton, elektron, neutron dan lain sebagainya. Jika materi yang mempunyai bobot (berat) bergerak dengan kecepatan cahaya dalam perhitungan fisika yang terjadi ada dua kemungkinan, pertama materi itu akan terbakar karena bergesekan dengan atmosfir dengan sangat cepat, atau kedua materi itu akan tercerai berai, terpisah-pisah menjadi partikel-partikel penyusunnya. Badan tercerai berai menjadi organ-organ, menjadi sel-sel, atom, dan partikel sub atomik.

Salah satu skenario rekontruksi untuk mengatasi probem di atas adalah teori Annihilasi. Teori ini mengatakan bahwa setiap materi (zat) memiliki anti materi. Dan jika materi dipertemukan atau direaksikan dengan anti materinya, maka kedua partikel tersebut bakal lenyap berubah menjadi seberkas cahaya atau sinar gama. Teori ini bisa digunakan untuk menjelaskan proses perjalanan Rasulullah pada etape pertama ini. Agar  Rasulullah dapat mengikuti kecepatan Jibril, maka badan wadag Rasulullah diubah oleh Allah menjadi badan cahaya. Untuk menjelaskan proses bagimana Rasulullah kembali menjadi jasad semula kiranya tidak mencukupi untuk disampaikan pada makalah ini.

Laila (malam hari)

Perjalanan cahaya itu di lakukan pada malam hari karena cahaya membutuhkan media yang bernama kegelapan atau keadaan gelap. Pendengaran pada malam hari juga menjadi lebih tajam daripada siang hari karena suara malam hari tidak mengalami interferensi atau gangguan gelombang yang terlalu besar, sehingga terdengar jernih. Dalam kesunyian malam suara dikejauhan pun bisa terdengar jelas.

Minal masjid al-haraam ilal masjid al-Aqsa (dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha)Allah memilihkan perjalanan itu dari masjid ke masjid karena masjid adalah tempat yang banyak menyimpan energi positif. Masjid adalah tempat yang menampung umat beribadah. Masjidil Haram menjadi tempat beribadah semenjak di bangun Ka’bah oleh nabi Ibrahim bersama nabi Ismail, dan Masjidil Aqsha meskipun pada waktu itu hanya berupa sisa pondasi dulunya adalah bekas masjid nabi Sulaiman (Solomon Temple). Di sekeliling antara kedua tempat itu adalah tempat yang diberkahi sebagai asal mula peradaban. Asal-usul kemajuan peradaban barat sekarang pada dasarnya adalah dari kedua tempat tersebut. Bisa diramalkan asal peradaban adalah dari timur dan akan kembali lagi ke timur. Terbukti musisi-musisi barat pada puncak prestasinya mencapai kesempurnaan karya ketika berkolaborasi dengan musisi-musisi timur. Di bidang Sains juga kemungkinan di barat nanti akan lahir suatu penemuan yang menjadikan orang barat terpaksa harus belajar ke timur.

Mi’raj (Perjalanan menembus batas-batas langit)

Langit dalam al-Qur’an adalah kata yang sering di sebut dengan bentuk tunggal samaa’, misalnya inna fii khalqis samaa’i wal ardhi atau bentuk jama’ samawaat, misalnya sab’a samawaat. Terdapat ayat yang menyebutkan tentang tujuh langit dan tujuh bumi (QS. 65: 12), atau  tujuh langit yang bertumpuk-tumpuk (QS. 67: 3), atau kata langit yang dipergunakan untuk menggambarkan lapisan-lapisan atmosfir bumi (QS. 2: 29), (QS. 30: 48). Namun yang dimaksudkan Mi’raj bukanlah sekedar perjalanan ke angkasa bumi melewati lapisan-lapisan atmosfir, sebab jika manusia berpijak dari bumi ke angkasa menembus bintang-bintang sejauh apapun sesungguhnya dia masih berada pada langit pertama, yaitu langit dunia (QS. 67: 5), padahal Allah menciptakan tujuh langit. Lalu dimanakah langit kedua sampai langit ke tujuh berada?. Jika kita memahami dengan seksama (QS. 52: 38), (QS. 72: 8), (QS. 78: 18-19) akan kita dapatkan gambaran bahwa ketujuh langit tersebut letaknya berdampingan akan tetapi tidak bisa ditembus karena perbedaan dimensi.

Tujuh langit tersebut adalah tujuh alam hidup berdampingan dengan perbedaan dimensional.

Langit pertama adalah ruang tiga dimensi, punya luas dan ketebalan, di huni oleh manusia. Bumi, planet, tata suya, matahari, bintang-bintang, galaksi dan segala susunan putaran yang kita saksikan adalah pada langit pertama atau langit dunia.

Langit kedua adalah ruang yang berdimensi empat, dihuni oleh bangsa jin dan makhluk yang berdimensi empat lainnya. Langit kedua tersusun atas langit pertama dan kedua.

Langit ketiga adalah ruang berdimensi lima yang di dalamnya dihuni oleh arwah orang-orang yang sudah meninggal. Langit ketiga tersusun atas langit pertama, kedua, dan ketiga.

Langit keempat sampai ke tujuh memiliki gambaran yang sama, tersusun dari langit-langit sebelumnya, dan dari langit-langit sebelumnya, begitu seterusnya hingga langit ke tujuh yang memiliki ruang berdimensi sembilan. Rasulullah melakukan perjalanan sampai langit ke tujuh yang mempunyai ruang berdimensi sembilan. Ruang yang lebih tinggi dimensinya mengandung di dalamnya dimensi-dimensi yang ada di bawahnya, sebagamana di dalam volume yang berdimensi tiga di dalamnya terkandung luas yang berdimensi dua. Luas berdimensi dua terdiri atas jajaran garis-garis, dan garis-garis terdiri dari jajaran titik-titik.

Karena telah berada pada dimensi yang paling tinggi, maka Rasulullah menyaksikan dengan jelas segala tata peradaban yang berada mulai langit pertama sampai langit ke tujuh. Itulah yang menyebabkan Rasulullah dapat membaca masa lalu dan masa yang akan datang, karena Rasulullah telah mencapai perjalanan di luar lingkar ruang dan waktu yang ada pada langit pertama atau langit dunia. Semua yang ada pada lingkar langit pertama sampai langit keenam sudah terangkum ketika Rasulullah sampai pada langit ke tujuh yang berdimensi sembilan. Wallahu a’lam bissawab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar