Selasa, 24 April 2012

Dunia & Akherat Mana Dahulukan?


Ada orang berpandangan bahwa dunia itu sebaiknya ditinggalkan. Karena yang penting adalah akherat. Sebab akherat adalah kehidupan yang sebenarnya. Adapula yang membela dunia sebab di dunialah hidup sebenarnya. Adapula yang tidak meperhatikan dua-duanya, masa bodoh! Namun yang keempat, ada yang memanfaatkan keduanya sebagai bagian yang tidak bisa dipisahkan. Manakah sebaiknya kita memilih keempat macam itu?

Allah berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا ءَاتَاكَ الله الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا


"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebaha­giaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan ba­gian­mu dari (ke­nik­matan) dunia­wi…" (Al Qashash: 77)

Menurut Imam Al Qurthubi, dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat di atas sangat jelas sekali agar meman­faatkan dunia sebagai sarana mencapai kebahagiaan akherat (syurga). Sebab jalan mencapai itu merupakan hak bagi setiap orang guna memanfaatkan dunia dengan sebaik-baiknya bagi kehidupan akherat. Bukan untuk tajabbur (sombong) atau berbuat jahat (baghyun).

Sedangkan Ibnu Katsir memberi penjelasan bahwa yang dimaksud dengan memanfaatkan dunia adalah mempergunakan karunia Allah berupa harta yang berlimpah, dan berbagai kenikmatan. Namun semua itu semata-mata digunakan untuk meng­aplikasikan keta­at­an mengikuti petunjuk Allah dan untuk berdekat-dekat kepada­Nya. Dengan berbagai macam sarana pendekatan itu maka manfaat besar (pahala) akan di­nik­mati baik di dunia maupun akherat.

Adapun kalimat: "jangan melupakan nasibmu di dunia" adalah sebuah perintah membolehkan menikmati segala makanan, minuman, pakaian, sarana tempat tinggal, dan mengawini wanita selama (numpang) di dunia. Semua itu semata-mata untuk meme­nuhi hak-hak pribadi. Sebab katanya, bagi Rabbmu ada hak, demikian pula bagi jiwa dan badan ada hak; bagi kelurga pun ada hak dan bagi kelezatan pun ada hak untuk dinikmati. Maka, penuhilah semua hak itu dengan hakmu, tulis Ibnu Katsir.

Buku "adabuddun-ya waddin" (etika menjalani kehidupan dunia dan agama) menjelaskan bahwa meninggalkan kemewahan dunia untuk akherat dan meninggalkan akherat demi keduniaan bukan suatu kebaikan. Yang terbaik adalah mengambil kedua -duanya lalu menggabungkannya sebagai dua hal yang berhubungan. (hal: 133-134).

Rasulullah saw bersabda:

 

نعم المطية الدنيا فارتحلوها تبلغكم الآخرة


"Sebaik-baik tunggangan adalah dunia. Maka naikilah ia hingga sampai ke (tujuan) akherat." (Adabuddunya waddin)

Suatu ketika ada seorang laki-laki mencela kehidupan dunia, lalu Imam Ali ra. menjawab:

 

الدنيا دار صدق لمن صدقها، ودار نجاة لم فهم عنها، ودار غنى لمن تنود منها.


Dunia itu ibarat rumah yang nyata bagi yang membenarkannya; ibarat rumah kesuksesan bagi yang mema­haminya; dan ibarat rumah mewah bagi yang mengiyakanna. (Adab dunya waddin)

Dalam kesempatan lain Imam Ali ra berkata: "Boncengilah dunia itu dibela­kang­mu dan boncengilah akhirat di depanmu. Karena baik dunia maupun akherat laksana anak-anak. Karena itu sebaiknya jadilah kalian itu sebagai anak-anak akherat dan jangan menjadi anak dunia (sebab nanti akan dibonceng di depan terus). Sebab hidup pada hari ini (dunia) adalah amal tanpa hisab, sedangkan nanti di akherat, hanya ada hisab tapi tiada amal. (Fatkhul Baari).

Diriwayatkan dari Muqotil, sutu ketika Nabi Ibrahim Al Khalil as bertanya kepada Tuhannya, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah saw: "Ya Rabb sampai kapankah aku berulang-ulang menikmati dunia? Dijawab: Amsik 'an haadza, falaisa tolabul ma­'asya man tolabuddunya". Pega­ngilah ia, sebab bukanlah disebut pencari (pecinta) dunia, orang yang menikmati fasilitas dunia."

Ditulis dalam kitab Taurat:
"Jika di dalam rumah terdapat kebaikan, maka beribadahlah, namun jika tidak ada carilah kebaikan itu; wahai manu­sia, gerakkan tanganmu, sebab tangan menyebabkan da­tangya rizkimu."

Sebagian ahli hikmah berkata:
"Bukanlah disebut pencinta dunia orang yang mencari nafkah sehingga upayanya itu mendatangkan kekayaan." Sebagian ahli etika juga berpendapat: "bukanlah disebut orang tamak karena profesinya menyebabkan ia kuat (kaya)."

Berangan-angan
Dari keterangan di atas kita berang­gapan bahwa memegang dunia itu diperbolehkan hingga mencapai pucak­nya. Namun itu semua adalah untuk kebaikan dunia dan akherat.

Tetapi dalam etika beragama ada akhlak yang perlu diwaspadai dalam kaitan dengan memegang keduniaan yaitu sifat tamanni atau tuulul amal (panjang angan-angan). Sifat tulul amal dalam buku fathul bari diartikan sebagai karakter dasar manusia. Katanya, dengan sifat ini manusia bernafsu agar panjang umur­nya untuk mengumpulkan kekayaan saja.

Dalam hadits dikatakan:
"Laa yazalu qolbul kabiir syaaban fitsnataini: khubbuddunya watuulul amal". Senantiasa hati yang tua itu menjadi muda karena dua sebab: cinta dunia dan tulul amal.

Diriwayatkan dari Anas ra: ada empat hal yang mencelakakan: beku pikiran, keras hati, panjang angan-angan dan rakus pada dunia.

Menurut Al Bazzar dari Abdullah bin Umar ra berkata: "Keselamatan manusia pada masa dahulu adalah zuhud dan keyakinan. Sedangkan kerusakan umat kemudian diakibatkan oleh sifat pelit dan tulul amal. (Tabrani dan Ibnu Abiddunya).

Dikatakan pula bahwa jika angan-angan dipendekkan maka akan berkurang rasa cemas dalam hidupnya dan hatinya bersinar. Karena jika ia mengingat akan kematian, maka tentu akan bersungguh-sungguh dalam berlaku taat dan akan rida dengan kekurangan (harta).


Wallahu a'lam

Sumber:
  1. Tafsir Ahkam Imam Al Qurthubi
  2. Tafsir Ibnu Katsir
  3. Adabuddunya Waddin
  4. Fathul Bari

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar